Masih teringat jelas
irama langkah kaki,
pundak bidang yang tak pernah
bosan kutatap,
rambut ikal yang kau biarkan terurai
menari-nari mengikuti irama langkahmu.
Lantas terhenti,
membuatku berdiri sejajar denganmu.
Lantas kau memalingkan wajah
melawan jantung,
menatapku dengan tatapan ganjil.
Lantas menanyaiku pertanyaan
yang selalu kau lontarkan
"Ngapain sih di belakang mulu?"
Lantas selalu kubalas
dengan jawaban yang sama
"Gapapa hehe"
Lantas wajahmu tampak kesal
lalu melanjutkan langkahmu
mengantarku pulang.
Ahh, rasanya ingin kuhentikan saja
detik jarum jam yang mengikuti langkah kita.
Ahh, rasanya ingin kuulur saja
jarak menuju rumah agar bisa berlama-lama denganmu.
Ahh tidak tidak, rumahku berada tepat di depanku.
Ya, rumah yang hangat dengan wajah yang dingin.
(2018)
Kamis, 03 September 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kamis, 03 September 2020
Berhentilah, Waktu!
Masih teringat jelas
irama langkah kaki,
pundak bidang yang tak pernah
bosan kutatap,
rambut ikal yang kau biarkan terurai
menari-nari mengikuti irama langkahmu.
Lantas terhenti,
membuatku berdiri sejajar denganmu.
Lantas kau memalingkan wajah
melawan jantung,
menatapku dengan tatapan ganjil.
Lantas menanyaiku pertanyaan
yang selalu kau lontarkan
"Ngapain sih di belakang mulu?"
Lantas selalu kubalas
dengan jawaban yang sama
"Gapapa hehe"
Lantas wajahmu tampak kesal
lalu melanjutkan langkahmu
mengantarku pulang.
Ahh, rasanya ingin kuhentikan saja
detik jarum jam yang mengikuti langkah kita.
Ahh, rasanya ingin kuulur saja
jarak menuju rumah agar bisa berlama-lama denganmu.
Ahh tidak tidak, rumahku berada tepat di depanku.
Ya, rumah yang hangat dengan wajah yang dingin.
(2018)
irama langkah kaki,
pundak bidang yang tak pernah
bosan kutatap,
rambut ikal yang kau biarkan terurai
menari-nari mengikuti irama langkahmu.
Lantas terhenti,
membuatku berdiri sejajar denganmu.
Lantas kau memalingkan wajah
melawan jantung,
menatapku dengan tatapan ganjil.
Lantas menanyaiku pertanyaan
yang selalu kau lontarkan
"Ngapain sih di belakang mulu?"
Lantas selalu kubalas
dengan jawaban yang sama
"Gapapa hehe"
Lantas wajahmu tampak kesal
lalu melanjutkan langkahmu
mengantarku pulang.
Ahh, rasanya ingin kuhentikan saja
detik jarum jam yang mengikuti langkah kita.
Ahh, rasanya ingin kuulur saja
jarak menuju rumah agar bisa berlama-lama denganmu.
Ahh tidak tidak, rumahku berada tepat di depanku.
Ya, rumah yang hangat dengan wajah yang dingin.
(2018)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar